Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Edisi Ramadan Series 9 "Takjil Gratis yang Tertunda"

Sore itu, jalanan di depan sebuah toko swalayan terlihat ramai. Banyak orang berlalu-lalang sambil menunggu waktu berbuka puasa. Di tepi jalan, beberapa orang terlihat sedang membagikan takjil gratis kepada para pengendara dan pejalan kaki.

Alya, siswi kelas 5 SD, baru saja keluar dari toko swalayan. Ia membantu ibunya membeli beberapa kebutuhan untuk berbuka puasa di rumah. Tangannya membawa kantong plastik berisi gula dan teh.

Saat berjalan pulang, Alya melihat sebuah antrean panjang di pinggir jalan.

“Wah, ada bagi-bagi takjil gratis!” gumamnya pelan dengan mata berbinar.

Alya sebenarnya sudah cukup lelah. Dari tadi ia berjalan cukup jauh bersama ibunya. Namun melihat antrean itu, ia merasa senang. Ia membayangkan akan mendapat makanan kecil untuk berbuka.

“Ibu, Alya antre sebentar ya,” kata Alya.

Ibunya tersenyum. “Boleh, tapi sabar ya.”

Alya pun berdiri di barisan paling belakang. Ia melihat kotak-kotak makanan di meja panitia. Ada kurma, air minum, dan kue kecil.

Perut Alya mulai terasa lapar. Ia menelan ludah dan mencoba bersabar.

Antrean berjalan pelan. Satu per satu orang di depannya menerima takjil dan mengucapkan terima kasih.

Alya semakin dekat dengan meja pembagian. Hatinya mulai senang.

“Sebentar lagi giliranku,” pikirnya.

Namun ketika hanya tinggal dua orang di depannya, salah satu panitia melihat ke dalam kotak dan berkata,

“Maaf ya, takjilnya sudah habis.”

Alya terdiam.

Orang yang berada tepat di depan Alya masih mendapat satu bungkus terakhir. Setelah itu, kotaknya benar-benar kosong.

Panitia itu menatap Alya dengan wajah sedikit menyesal.
“Maaf ya, Dik. Takjilnya sudah habis.”

Alya merasa sedikit kecewa. Ia sudah menunggu cukup lama.

Namun ia menarik napas pelan, lalu tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, Kak,” jawabnya sopan.

Ia kemudian berjalan kembali menuju ibunya.

Ibunya menepuk pelan bahu Alya. “Tidak kebagian ya?”

Alya menggeleng sambil tersenyum. “Iya, Bu. Tapi tidak apa-apa. Di rumah juga sudah ada makanan untuk berbuka.”

Ibunya tersenyum bangga melihat sikap Alya.

Dalam hati Alya berpikir, mungkin hari ini memang belum rezekinya. Tapi ia tetap merasa senang karena sudah mencoba bersabar saat menunggu antrean.

Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang bersama.

Langit sore semakin indah, dan waktu berbuka puasa pun sudah semakin dekat.

Posting Komentar untuk "Cerpen Edisi Ramadan Series 9 "Takjil Gratis yang Tertunda""